Rabu, 14 Juni 2017

Ketahanan Nasional dalam Bidang Sosial Budaya



Tugas Pendidikan Kewarganegaraan

(Ketahanan Nasional dalam Bidang Sosial Budaya)

 

Disusun oleh :
Satrio Abimanyu
(16816870)
1MA09


 Pendahuluan
A.    Latar Belakang

Indonesia terkenal sebagai bangsa yang luhur. Memiliki keragaman budaya yang tersebar di pelosok-pelosok nusantara. Dari kesenian, adat-istiadat hingga makanan melekat mewarnai keragaman bangsa ini. Tidak heran jika begitu banyaknya budaya yang kita miliki, justru membuat kita tidak mengetahui apa saja budaya yang ada Indonesia. Bahkan kita sendiri pun sebagai generasi muda terkadang melupakan budaya daerah kita. Ironis memang, orang Indonesia tetapi tak tahu ciri khas bangsanya sendiri. Lihat diri kita masing-masing, sebetulnya kita jugalah yang tidak mau tahu akan keluhuran budaya sendiri. Ketertarikan budaya yang semakin meluntur juga sangat nampak pada diri generasi muda saat ini. Salah satunya karena globalisasi.

Menyinggung era globalisasi, tentu juga akan berpengaruh pada dinamika budaya di setiap negara. Khususnya di Indonesia, hal ini bisa dirasakan dan sangat menonjol nampaknya. Begitu bebas budaya yang masuk dari berbagai arus kehidupan. Pribadi yang ramah-tamah juga sangat mendukung masuknya berbagai budaya tersebut. Ditambah lagi generasi muda kita yang terkesan bosan dengan budaya yang mereka anggap kuno. Namun, masuknya budaya dari luar justru kerap berimbas buruk bagi bangsa ini. Misalnya budaya berpakaian, gaya hidup (life style), segi iptek, maupun adat-istiadat. Kesemua itu berdampak sangat buruk dan dengan mudah dapat menggeser budaya asli Indonesia.

Kita sebenarnya belum siap menerima era globalisasi. Gaya hidup kita semakin menjurus ke arah barat yang individual dan liberal. Budaya gotong-royong pun semakin memudar. Dari segi iptek, sebagian besar juga berdampak buruk bagi kita. Yakni penyalahgunaan teknologi kerap kali terjadi. Kemudian, belum ada filterisasi budaya yang masuk. Begitu mudah budaya masuk tanpa ada penyaringan kesesuaian dengan budaya asli kita. Akibatnya kita seperti berjalan mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern. Tetapi sayangnya budaya luhur yang dulu melekat dalam diri, perlahan semakin menghilang. Parahnya, budaya daerah yang ada dan kita junjung tinggi justru semakin kita abaikan.

B.   Permasalahan

1. Apakah pengaruh sosial budaya pada ketahanan nasional?
2. Apakah pengaruh local genius terhadap ketahanan nasional?
3. Bagaimana hubungan kebudayaan nasional dengan kebudayaan asing?
4. Apakah sifat-sifat dasar identitas Indonesia yang mempengaruhi ketahanan nasional?


 Pembahasan

Ketahanan sosial budaya diartikan sebagai kondisi dinamis budaya Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan kekuatan nasional dalam menghadapi serta mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang datang dari luar maupun dari dalam secara langsung maupun tidak langsung membahayakan kelangsungan kehidupan sosial budaya. Kondisi sosial budaya bangsa yang dijiwai kepribadian nasional berdasarkanpancasila yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosialbudaya manusia antar masyarakat Indonesia.Untuk mewujudkan keberhasilan ketahanan sosial budaya warga negara Indonesia perlu:Kehidupan sosial budaya bangsa dan masyarkat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, rukun, bersatu, cinta tanah air, maju, dan sejahtera dalam kehidupan yang serba selaras, serasi dan seimbang serta mampu menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional.

Manusia mengembangkan kebudayaan tidak lain sebagai upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya menghadapi berbagai tantangan yang muncul dari lingkungannya untuk kemudian mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Karena itulah dapat dikatakan bahwa kebudayaan merupakan wujud tanggapan aktif manusia terhadap tantangan yang datang dari lingkungan. Aspek sosial biasanya mengacu pada masalah struktur sosial dan pola hubungan sosial yang ada di dalamnya, sedangkan kalau kita bicara aspek budaya, mengacu pada kondisi kebudayaan yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Atas dasar itu, maka hal tersebut akan dibicarakan dalam bahasan berikut. 

Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua cirinya yang bersifat unik. Secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan berdasarkan perbedaan suku-bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan. Secara vertikal struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Pluralitas masyarakat Indonesia yang bersifat multi dimensional telah menimbulkan persoalan tentang bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi secara horizontal, sementara sratifikasi sosial sebagaimana terwujud pada masyarakat Indonesia akan memberi bentuk pada integrasi. Oleh karena itulah maka timbul persoalan yang timbul dari struktur masyarakat Indonesia yang demikian adalah bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi pada tingkat nasional sehingga menunjang penciptaan ketahanan nasional yang mantap.

Lapisan sosial yang berbeda membawa perbedaan perilaku kebudayaan yang diwujudkan dalam keadaan tertentu seperti bahasa yang digunakan, kebiasaan berpakaian, kebiasaan konsumsi makanan dan sebagainya. Semua itu menambah keanekaragaman tampilan budaya masyarakat Indonesia. Kebudayaan baru yang lebih penting daripada kebudayaan-kebudayaan lain dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa adalah kebudayaan nasional atau kebudayaan Indonesia. Kebudayaan ini tidak sama dengan kebudayaan daerah tertentu tidak sama artinya dengan penjumlahan budaya-budaya daerah di kepulauan Indonesia. Apa yang disebutkan kebudayaan bangsa dalam penjelasan UUD 1945 dirumuskan sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah si seluruh Indonesia. Perkataan puncak-puncak kebudayaan itu artinya adalah kebudayaan yang diterima dan dijunjung tinggi oleh sebagian besar suku-suku bangsa di Indonesia dan memiliki persebaran di sebagian besar wilayah Indonesia.

Untuk mewujudkan keberhasilan ketahanan sosial budaya warga negara Indonesia perlu, kehidupan sosial budaya bangsa dan masyarkat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, rukun, bersatu, cinta tanah air, maju, dan sejahtera dalam kehidupan yang serba selaras, serasi dan seimbang serta mampu menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan kebudayaan nasional. Ketahanan Sosial budaya terbentuk karena manusia (termasuk yang dikategorikan Komunitas Adat terpencil) adalah makhluk sosial. Manusia melalui pergaulan, interaksi dan interelasi sosial dapat menemukan keluhuran budaya yang dapat menghasilkan cipta karyanya yang lebih lanjut dikenal sebagai kebudayaan.

Indonesia sebagai negara kesatuan dengan Sosial budayanya-pun beraneka ragam. Keaneka-ragaman suku dan budaya yang kokoh adalah sebagai akar-akardari ketahanan sosial. Demikian seterusnya, dengan kuat dan kokohnya ketahanan sosial akan menjamin terwujudnya ketahanan nasional. Faktor-faktor yang mempengaruhi dipertahankannya ketahan sosial budaya suatu masyarakat yaitu:

1.      Struktur Sosial atau pengelompokan masyarakat, dilakukan untuk memudahkan pelaksanaan tugas-tugas dalam kemasyarakatan. Pengelompokkan dapat dilakukan berdasarkan status sosial, kedudukan, dan bidang kerjanya. Dari Struktur sosial tersebut, maka fungsi masing-masing dalam mewujudkan ketahan untuk tetap eksisnya suatu masyarakat akan lebih terjamin. Ada dua kajian khusus dalam faktor Struktur tersebut, sebagaimana diungkapkan oleh Jusdistira Garna yang mengarah kepada Struktur dan fungsi masyarakat. Dengan demikian status sosial seseorang bukan hanya akan menempatkan dirinya pada tingkat Struktur tertentu, akan tetapi ia akan mempunyai fungsi tetentu dalam lingkungan masyarakat, yang dalam hal ini berfungsi dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat di mana mereka berada.Begitu pula dengan kedudukan dan bidang kerja anggota sosial masyarakat lainnya akan menentukan pula fungsinya dalam memperkuat ketahanan sosialnya.

2.      Pengawasan Sosial atau sosial kontrol, merupakan sistem dan prosedur yang mengatur kegiatan dan tindak-tindakan anggota masyarakat. Dalam praktek kehidupan masyarakat tertentu kontrol sosial ini dijadikan pula sebagai suatu sistem ilmu pengetahuan dan pengalaman teknik empiris yang digunakan sebagai penangkal ATM (Ancaman Tantangan Halangan) pada lingkungan sosialnya. Dalam kondisi tertentu juga bisa digunakan dalam mengontrol sikap dan perilaku anggota masyarakat yang berkaitan dengan aspek kehidupan beragama, idiologi, sitem hukum, yang berlaku atau dianut.

3.      Media sosial atau perantara interelasi antar angggota masyarakat dalam upaya mewujudkan ketahanan sosial bersama yang dilakukan oleh struktur sosial tertentu dalam kondisi yang terintegrasi. Secara faktual media sosial juga dapat dipandang sebagai alat, materiil maupun spritual yang mampu membentuk bahasa dan isyarat dalam rangka komunikasi antar anggota masyarakat.

4.      Standar Sosial yaitu menunjukan kepada suatu ukuran dalam meneliti, menyeleksi sikap dan cara hidup yang mengandung sistem nilai. Sistem nilai tersebut menyangkut kualitas suatu obyek yang dipandang berguna dalam memanfaatkan cara untuk mencapai tujuan dalam kehidupan bermasyarakat. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama akan dijalankan oleh semua anggota masyarakat menurut struktur dan fungsinya masing- masing dalam rangka membentuk kesatuan kebudayaan tertentu. Tidak menutup kemungkinan faktor- faktor di atas, walaupun kedudukkannya bergeser fungsinya secara ganda menjadi fungsi dasar dalam membentuk kebudayaan.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan sub-etnis, yang masing-masing memiliki kebudayaannya sendiri karena mereka biasanya hidup di daerah atau wilayah tertentu sehingga disebut kebudayaan daerah. Dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan daerah sebagai suatu sistem nilai yang menuntun sikap, perilaku dan gaya hidup, merupakan identitas dan menjadi kebanggan dari suku bangsa yang bersangkutan. Local genius adalah nilai-nilai budaya yang tidak dapat dipengaruhi oleh budaya asing. Oleh karena itu, local genius biasanya menjadi titik pangkal kemampuan budaya daerah untuk menangkal dan atau menetralisir pengaruh negatif budaya asing.

Kebudayaan yang ada di nusantara telah lama saling berkomunikasi dan berintegrasi dalam kesetaraan. Dalam kehidupan bernegara saat ini, dapat dikatakan bahwa kebudayaan daerah merupakan kerangka dari kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia. Dengan demikian, perkembangan kehidupan sosial budaya bangsa tidak akan terlepas dari perkembangan sosial budaya daerah. Kebudyaan nasional juga bisa merupakan interaksi antara budaya yang ada dengan budaya asing yang diterima bersama seluruh bangsa. Hal yang penting dari interaksi itu adalah inetraksi budaya harus berjalan wajar dan alamiah tanpa paksaan dan dominasi budaya satu daerah terhadap budaya lainnya.

Penutupan

A.   Kesimpulan

Jadi untuk mendukung sebuah ketahanan nasional kita harus bisa menjaga budaya itu dan melestarikan budaya itu sendiri agar tidak punah dan di ambil negara lain. Misalnya dengan membuat hak paten atau membuat hak cipta, mengumumkan kepada dunia bahwa itu hasil karya kita. Dan yakin bahwa kesenian Indonesia sangat kaya, hasil karya seorang seniman tak akan hilang tetapi hanya terabaikan, jadi sebagai generasi muda kita harus menghargai kesenian dan budaya yang ada di Indonesia.
Sebagai seorang mahasiswa, ada satu cara untuk mempertahankan dan melestarikan budaya kita. Yaitu memanfaatkan teknologi informasi yang semakin berkembang pesat. Perkembangan teknologi informasi seperti internet, handphone, radio maupun televisi, merupakan sarana yang paling efektif dalam upaya pengenalan seluruh budaya Indonesia pada masyarakat luas khususnya pelajar. Sekaligus sebagai upaya mempertahankan budaya kita dari ancaman pengakuan budaya oleh negara lain.

B.   Saran

Sebagai jiwa muda Indonesia, kita wajib mempertahankan dan melestarikan Budaya-Budaya milik Indonesia. Jangan sampai Negara-Negara lain mengklaim Budaya kita. Karena banyak sekali di Indonesia ini Budaya-Budaya yang harus kita ketahui, dan ada banyak sekali Budaya di Indonesia.

C.   Daftar Pustaka
http://www.kompasiana.com/kartika.asmara/pertahanan-nasional-dalam-sosial-budaya-indonesia_552a4f4cf17e613379d623bd









Selasa, 18 April 2017

Peran Pemuda Dalam Pembangunan Kelautan di Indonesia



Tugas Pendidikan Kewarganegaraan

(Peran Pemuda Dalam Pembangunan Kelautan di Indonesia)



Disusun oleh :
Satrio Abimanyu
(16816870)
1MA09


Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr Wb

        Segala puji bagi Allah yang telah memberikan saya kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah saya yang bertema “Peran Pemuda Dalam Pembangunan Kelautan di Indonesia”. Tanpa pertolongan-Nya mungkin saya tidak dapat menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

        Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang apa peran pemuda Indonesia dalam pembangunan kelautan (maritim) di Indonesia seperti contohnya pengembangan laut dan wisata serta suatu harapan dapat menambah wawasan pembaca khususnya mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

        Dalam proses pendalaman materi ini, saya mengucapkan terimakasih kepada Dosen Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan yaitu Bapak Emilianshah Banowo dan rekan rekan mahasiswa yang telah mendukung saya. Saya sadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan, maka dari itu saya membutuhkan kritik dan saran yang membangun.

  
Pendahuluan 

     a. Latar Belakang

Sebagai pelaksana aksi sosial perubahan, pemuda bukan saja menyandang status sebagai calon pemimpin dimasa depan, tetapi juga sebagai tulang punggung suatu bangsa yang menentukan maju mundurnya, hidup matinya, berkualitas tidaknya suatu bangsa. Oleh karena itu, suatu bangsa yang ingin memiliki masa depan yang gemilang haruslah memperhatikan generasi mudanya, baik dari segi pemenuhan gizinya maupun dari segi pendidikannya dan moralnya. Niscaya kebangkitan suatu bangsa yang sebenarnya akan terwujud bukan hanya sekedar sumpah dan teriakan yang hanya sekedar wacana. Sumpah pemuda pada tahun 1928 adalah salah satu bukti bahwa peran pemuda dalam membawa arah perjuangan suatu bangsa adalah nyata. Hasrat dan produktivitas yang menggelora untuk menciptakan suatu pola pergerakan baru dalam menghadapi kolonialisme adalah hasil dari jerih payah yang penuh suka duka kehidupan kaum muda. Ketegasan sikap generasi muda dalam memposisikan diri dengan pergerakan dari kaum yang bukan muda adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Hasilnya adalah totalitas perlawanan terhadap kolonialisme sampai bisa mewujudkan indahnya suatu kata yaitu merdeka.

Pola pergerakan kaum muda Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan tentunya sudah jauh berbeda dengan pola pergerakan kaum muda pada dewasa ini. Obyek yang diperjuangkan bukan lagi hanya kemerdekaan suatu bangsa, tetapi merencanakan blue print pembangunan suatu bangsa agar menjadi bangsa yang mandiri, berwibawa dan memiliki segenap sumber daya manusia untuk merealisasikan blue print yang bisa me-recovery kebobrokan pembangunan yang kurang terencana secara berkesinambungan. Pada dewasa ini, masa pembangunan di Indonesia telah memasuki tahun ke 63. Seharusnya dengan lamanya masa pembangunan ini bisa memberikan hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara menyeluruh, baik dari segi pembangunan sosial, ekonomi, kebudayaan, politik dan aspek lainnya yang menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung. Kondisi pembangunan di Indonesia saat ini terdapat ketimpangan antara jawa dan luar jawa, laut dan darat. Masalah ini harus segera diatasi karena bisa menimbulkan gejolak penuntutan dari masyarakat yang menjadi korban hasil pembangunan nasional. 


b. Permasalahan

Apa peran pemuda dalam pembangunan kelautan (maritim) di Indonesia?



Pembahasan

Negara maritim adalah negara yang mampu memanfaatkan laut, walaupun negara tersebut mungkin tidak punya banyak laut, tetapi mempunyai kemampuan teknologi, ilmu pengetahuan, peralatan, dan lain-lain untuk mengelola dan memanfaatkan laut tersebut, baik ruangnya maupun kekayaan alamnya dan letaknya yang strategis. Selain itu, konsep poros maritim yang disampaikan oleh Presiden Indonesia dalam KTT ke-9 Asia Timur yang diselenggarakan di Nay Pyi Taw, Myanmar, 13 November 2014, memiliki 5 pilar utama, yaitu membangun budaya maritim, penjagaan dan pengelolaan sumber daya laut, membangun infrastruktur dan konektifitas maritim, kerja sama maritim melalui diplomasi dan pembangunan kekuatan pertahanan maritim. Dari definisi dan konsep tentang negara maritim diatas, kita bisa mendapatkan sebuah gambaran besar tentang apa itu definisi negara maritim dan syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi agar sebuah negara maritim dapat diwujudkan, jika Indonesia ingin menjadi negara maritim maka Indonesia harus mampu memanfaatkan kekayaan maritim Indonesia dengan maksimal, ini adalah poin penting jika Indonesia ingin menjadi negara maritim Indonesia, pemanfaatan kekayaan maritim bisa terjadi pada sektor perikanan, sektor kelautan misalnya pariwisata bahari, energi terbarukan, transportasi laut, minyak bumi, gas lepas pantai, budidaya rumput laut, garam industri, dan lain-lain.

Disamping itu, ada dua hal yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan maritim Indonesia. Pertama, Indonesia harus mampu memfasilitasi kegiatan maritim, fasilitas yang dimaksud disini bukan hanya pada tataran infrastruktur saja, melainkan pada bagaimana pengelolaan dan pengembangan sumber daya kelautan seperti manajemen pengelolaan hasil laut, produksi, marketing dan teknologi industri sehingga dengan pengelolaan yang tepat dan manajemen pengembangan sumber daya kelautan yang baik, hasil laut yang diperoleh dalam kegiatan maritim dapat memberikan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia, karena tujuan utama dari kegiatan maritim ini adalah kesejahteraan ekonomi. Dalam tataran ini, kreatifitas dan inovasi masyarakat sangat diperlukan, karena hasil produksi yang laku dipasaran adalah hasil produksi yang mempunyai kualitas baik, kemasannya menarik dan terdapat nilai tambah yang berbeda dari yang lain, sehingga produksi hasil laut kita dapat bersaing dengan hasil produksi hasil laut negara lain.

Terlebih lagi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata, momentum ini akan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya dalam hal pengembangan ekonomi, selain itu MEA akan menjadi ajang kompetisi antar warga negara ASEAN untuk saling adu kreatifitas dan adu inovasi, bahkan adu teknologi, yang paling kreatif dan inovatif dialah yang akan menjadi pemenang. Kedua momentum ini yaitu MEA dan semangat pembangunan poros maritim Indonesia bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi masyarakat Indonesia untuk menjadikan negara Indonesia yang berdikari di bidang ekonomi.

Kedua, Indonesia harus mampu menjaga kedaulatan negara. Konstelasi politik dunia mengalami perubahan, seperti yang kita ketahui pertumbuhan ekonomi negara China yang mencapai 9% telah membuat negara tersebut memiliki pengaruh besar dalam dunia perpolitikan dan ekonomi global, negara-negara yang sebelumnya merapatkan barisan kepada negara Amerika kini mulai berpindah haluan kepada China, Amerika yang dahulu dielu-elukan sebagai negara adikuasa sekarang menjadi negara yang kelabakan karena secara ekonomi telah dikalahkan oleh kebangkitan negeri tirai bambu itu, perseteruan tersebut tentunya memiliki dampak dan pengaruh terhadap kedaulatan negara Indonesia, terutama kedaulatan maritimnya. Sebut saja konflik Laut China Selatan, kemudian China dengan mega proyek jalur suteranya dan rebalancing power Amerika di asia-pasifik. Selain itu, sebuah penelitian British Petroleum (BP) tahun 2011, menyimpulkan minyak dunia akan habis pada 2056. Perubahan geopolitik akan terjadi menjelang krisis minyak, di mana konflik dunia yang sekarang berputar-putar di Timur Tengah (negara-negara kaya minyak) akan bergeser ke kawasan equator yang kaya sumber pangan, di mana Indonesia berada di dalam zona khatulistiwa, hal-hal semacam ini harus menjadi early warning bagi Indonesia untuk waspada dalam menjaga dan mempertahankan kedaulatan maritim Indonesia, karena geografis kita yang sangat diuntungkan yaitu berada pada posisi silang dunia yang memungkinkan wilayah maritim Indonesia mendapat berbagai ancaman dari negara lain. Sebagai respon dari berbagai ancaman tersebut, semua elemen bangsa harus bersatu, khususnya aparat pemerintah yang tidak boleh lengah, peran aparat pemerintah harus menjadi benteng pertahanan pertama sekaligus menjaga wilayah maritim Indonesia, dengan begitu maritim Indonesia bisa berdaulat dan disegani di dunia.

Lalu, dimanakah peran pemuda?

Dalam pembangunan negara maritim yang berdaulat berdikari dan berbudaya, diperlukan peran dan kerjasama seluruh stakeholder. Kementerian terkait, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, TNI, dunia usaha dan yang paling utama adalah peran masyarakat. Lalu dimanakah peran pemuda dalam pembangunan negara maritim ini? Setidaknya penulis memberikan empat catatan terhadap peran dan upaya apa yang harus dilakukan oleh pemuda Indonesia.

Pertama yaitu membangun budaya maritim dan ekonomi kreatif dalam bidang kemaritiman. Pemuda dengan fungsinya sebagai agent of change, social control dan iron stock dapat menjadi pelopor dan hadir ditengah masyarakat untuk menginisiasi gerakan sosial atau social community dalam bidang kemaritiman, dimana tugas pokoknya adalah menciptakan aware terhadap dunia kemaritiman Indonesia melalui himbauan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga dan melestarikan ekosistem maritim Indonesia, salah satu cara untuk melaksanakan kegiatan tersebut adalah dengan cara memanfaatkan media sosial, dari sana para pemuda bisa melakukan penggalangan awal, memulai untuk berkampanye, mengisi ruang-ruang media sosial dengan informasi-informasi tentang kemaritiman, selain itu para pemuda pun tidak lupa mengajak masyarakat untuk melek terhadap potensi sumber daya kelautan, sehingga masyarakat tertarik untuk membuka usaha dan mengolah kekayaan maritim secara kreatif dan inovatif. Untuk membangun sebuah budaya memang diperlukan waktu dan perjuangan yang begitu panjang, namun, setidaknya dengan langkah ini bisa menjadi peletakan batu awal untuk membangun budaya maritim di Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berbudaya.

Kedua, konsolidasi komunitas dan organisasi kepemudaan dalam menyamakan persepsi atau pandangan tentang tujuan pembangunan negara maritim Indonesia. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui dialog, diskusi, dinner talk, afternoon tea, ataupun bentuk forum lainnya yang bertujuan untuk mensosialisasikan pembangunan negara maritim Indonesia. Selain itu, konsolidasi pemuda di seluruh Indonesia perlu dilakukan khususnya pemuda yang tinggal di daerah perbatasan, karena daerah perbatasan merupakan daerah yang rawan dan berbatasan langsung dengan negara lain yang sewaktu-waktu dapat mengancam kedaulatan NKRI.

Ketiga, meningkatkan hard skill dan soft skill, khususnya dalam ilmu, wawasan, dan teknologi di bidang kemaritiman. Hard skill yang dimaksud adalah keterampilan dalam mengolah sumber daya kelautan sedangkan soft skill yang dimaksud adalah penguasaan bahasa asing, teknologi informasi dan komunikasi, dll. Dengan begitu, para pemuda bisa menjadi pelopor dan teladan bagi masyarakat dalam proses pembangunan negara maritim Indonesia.

Keempat, berpartisipasi dan mendukung program pemerintah khususnya dalam bidang kemaritiman. Pemerintah tentunya menjadi leading sector dalam upaya pembangunan negara maritim ini, kementerian-kementerian terkait melalui program kerjanya menjadi sektor penggerak dan realisasi dalam proses pembangunan negara maritim Indonesia, sebagus apapun rencana atau program kerja yang di buat dalam mencapai tujuan, jika tidak ada dukungan dari masyarakatnya maka mustahil tujuan tercapai. Oleh karena itu pemuda hari ini harus berpartisipasi aktif dan mendukung setiap program pemerintah, khususnya program yang terkait di bidang kemaritiman.

Potensi wisata maritim Indonesia tersebar di seluruh perairan Indonesia. Sebesar 14 persen dari terumbu karang dunia terdapat di Indonesia, bahkan diperkirakan terdapat lebih dari 2.500 jenis ikan dan 500 jenis terumbu karang hidup di dalamnya. Daya tarik wisata yang juga menjadi primadona di Indonesia antara lain hutan mangrove, estuaria, pantai dengan pasir putih dan padang lamun (seagrass). Selain itu, adapula aneka macam taman laut yang menyuguhkan keindahan surga dunia. Sebut saja seperti Taman Laut Karimun Jawa, Kepulauan Seribu, Pantai Derawan di Kalimantan Timur, Pantai Senggigi di Lombok, Bunaken di Sulawesi Utara, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Takabonerate, Bira di Sulawesi Selatan dan Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat adalah sebagian contoh kecil eksotika wisata maritim yang ada di Indonesia.

Pengembangan potensi wisata maritim ini pada hakikatnya adalah upaya mengelola dan memanfaatkan obyek serta daya tarik wisata bahari di kawasan pesisir dan lautan Indonesia, berupa kekayaan laut yang indah, keragaman flora dan fauna seperti terumbu karang dan berbagai jenis ikan hias. Jika dikembangkan secara optimal, ini merupakan devisa negara. Selain itu, eksistensi kemaritiman Indonesia dapat ditunjang dengan peluang bisnis yang beragam. Melalui potensi ini, ekonomi berorientasi maritim dapat dikembangkan lebih luas dan beragam, antara lain seperti bisnis wisata (bussiness tourism), wisata laut (sea tourism), wisata pantai (seaside tourism), wisata pesiar (cruise tourism), wisata alam (eco tourism) dan wisata olahraga (sport tourism). 



 Penutupan 

     a. Kesimpulan

Negara maritim adalah negara yang dapat mampu memanfaatkan kekayaan maritimnya, negara mampu memfasilitasi kegiatan maritim, pengolahan dan pengembangan sumber daya kelautan dan menjaga kedaulatan wilayah maritimnya. Dalam pembangunan maritim dibutuhkan peran pemuda yang kreatif dan inovatif dalam rangka mengolah sumberdaya kelautan yang melimpah. Kombinasi antara pemuda yang kreatif dan inovatif dalam mengolah sumber daya kelautan dengan pemerintah sebagai leading pembangunan maritim akan memungkinkan terwujudnya pembangunan maritim Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berbudaya. 

b. Daftar Pustaka
http://ronggolawe1.blogspot.co.id/2010/04/pemimpin-yang-berjiwa-maritim.html
http://belazankata.blogspot.co.id/2014/04/essay-pengembangan-potensi-wisata.html